Selasa, 30 Januari 2018

TUGAS AGROEKOLOGI AGROEKOSISTEM PEKARANGAN DESA



                               I.            PENDAHULUAN


Agroekosistem yaitu unit penggunaan lahan yang meliputi tanaman dan/ atau hewan ternak serta lahannya sendiri, yang mengubah energi matahari, air, nutrisi, tenaga kerja, dan input pertanian lainnya menjadi produk- produk yang secara ekonomis bermanfaat bagi manusia, seperti bahan pangan, pakan, sandang, maupun papan.
Pekarangan merupakan lahan dengan sistem terintegrasi dan mempunyai hubungan yang kuat antara manusia sebagai pemilik dan penghuninya dengan tumbuhan dan tanaman serta hewan- hewan ternak. Pekarangan dapat dianalogikan sebagai miniatur praktek agroforestri skala rumah tangga. Fungsi dasar pekarangan, khususnya di daerah pedesaan adalah sebagai sumber produksi pangan subsisten. Secara umum, agroekosistem pekarangan memiliki fungsi produksi dan jasa lingkungan. Fungsi produksi berkaitan dengan peran langsung dari konsumsi atau pemanfaatan tanaman dan hewan yang dibudidayakan, serta peran komersial dari penjualan komoditas pekarangan; sedangkan fungsi jasa lingkungan berkaitan dengan sosial, budaya, dan ekologi. Pekarangan berfungsi untuk menghasilkan :
1.      Bahan pangan tambahan hasil sawah dan tegalan.
2.      Sayur dan buah- buahan.
3.      Ungags, ternak kecil, dan ikan.
4.      Rempah- rempah, bumbu, dan wangi- wangian.
5.      Bahan kerajinan tangan.
Selain itu, pekarangan juga memberi manfaat jasa lingkungan. Optimalisasi pemanfaatan pekarangan bisa ditekankan pada fungsi pekarangan yang berimbang secara produktif, baik sisi ekonomis maupun ekologi.

                               II.            HASIL OBSERVASI


A.    Komponen biotik
Komponen biotik adalah suatu komponen yang terdiri dari mahkluk hidup yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotic.
Komponen biotik yang terdapat dipekarangan terdiri dari :
1.      Tumbuhan
Pekarangan bisa menjadi tempat berlangsungnya hidup bagi berbagai jenis tumbuhan, yaitu seperti : pohon pisang, singkong dan lain-lain.
2.      Manusia
Manusia merupakan factor komponen utama yang mempunyai pengaruh yang kuat, karena manusia yang dapat mengatur dan mengolah semua tumbuhan/tanaman yang terdapat dipekarangan.
3.      Serangga
Serangga juga termasuk komponen biotik. Berbagai macam serangga hidup dipekarangan, seperti : belalang, capung, kupu-kupu, dan lain-lain.

B.     Komponen abiotik
Komponen abiotik merupakan komponen yang terdiri dari benda-benda mati seperti air, tanah, udara, cahaya matahari, batu,  iklim, hujan, suhu, kelembaban, dan angin untuk berlangsungnya suatu kehidupan tumbuhan/ tanaman.
Komponen abiotik yang terdapat dipekarangan adalah :
1.      Suhu dan kelembaban
Suhu memiliki pengaruh dalam ekosistem pekarangan serta merupakan syarat yang diperlukan tumbuhan serta organisme yang terdapat dipekarangan, karena suhu merupakan derajat energi panas yang berasal dari radiasi sinar, terutama yang bersumber dari matahari. Suhu udara berbeda-beda di ekosistem satu dengan yang lainnya, bergantung pada letak garis lintang (latitude) dan ketinggian tempat (altitude). Makin dekat dengan kutub, suhu udara semakin dingin dan kering. Suhu merupakan faktor pembatas bagi kehidupan dan mempengaruhi keanekaragaman hayati di suatu ekosistem. Pada umumnya, makhluk hidup dapat mempertahankan hidupnya pada suhu lingkungan 0 derajat celcius sampai 40 derajat celcius.
2.      Air
Air merupakan komponen penting bagi kehidupan seluruh mahkluk hidup. Pada pekarangan air sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan tumbuhan yang hidup di pekarangan. Tanpa air tentu tumbuhan tidak dapat tumbuh dan hidup.
3.      Intensitas cahaya
Sinar matahari adalah sumber utama bagi pertumbuhan tumbuhan. CO2 dan air berubah menjadi karbohidrat dan oksigen selama fotosintesis dengan menggunakan sinar matahari.
4.      Tanah
Tanah merupakan media untuk tumbuhnya tumbuhan/tanaman. Tanah tersusun atas 4 komponen utama, yaitu bahan mineral, bahan organik, air, dan udara. Tanah menjadi media tumbuh bagi organisme autotrof. Tanah juga digunakan organisme heterotrof sebagai tempat mencari makanan.

C.     Interaksi Antar Komponen
Menurut Indriyanto (2010) ia berpendapat bahwa organisme hidup di alam tidak hidup sendiri-sendiri, melainkan menjadi suatu kelompok individu-individu yang menempati suatu tempat tertentu, sehingga antarorganisme akan terjadi interaksi. Interaksi-interaksi yang terjadi dapat berupa interaksi antar individu dari spesies yang sama, dapat juga merupakan interaksi antar individu dari spesies yang berbeda . selain interaksi antar komponen biotik, interaksi antar komponen biotik maupun komponen abiotik dapat juga terjadi, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Selain interaksi antar komponen biotik, antar komponen biotik dan komponen abiotik biotik juga dapat saling berintenteraksi untuk menciptakan okosistem  yang dinamis, salah satunya seperti ekosistem pekarangan. Interaksi antar komponen biotik dan abiotik dapat kita ketahui dengan adannya hubungan timbal balik antara dua komponen tersebut. Adapun interaksi antar komponen biotik, antar komponen abiotik dan interaksi komponen biotik abiotik dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.    Interaksi Antar Komponen Biotik
Dalam suatu ekosistem pekarangan desa, jumlah komponen biotik yang terdapat pada pekarangan tersebut lumayan banyak (tingkat keanekaragaman). Berdasarkan hasil observasi, komponen biotik yang dapat kami temukan pada pekarangan desa meliputi manusia, pohon pisang, pohon mangga, belalang, capung,kupu-kupu, bekicot, dan lain-lain.
Interaksi yang terjadi antara komponen tersebutmerupakan suatu interaksi yang salinginteraksi yang saling menguntungkan satu sama lain. Interaksi antar komponen biotik dapat digambarkan sebagai berikut.

Tumbuhan       →            Organisme Pengganggu      →           Organisme Pengelola

Berdasarkan diagram alir diatas, dapat kita lihat bahwa terjadi interaksi antar  komponen biotik. Interaksi tersebut terjadi ketika tumbuhan yang hidup dipekarangan mengalami gangguan dari organisme penggaggu, berupa hama (bekicot, belalang, dan serangga lainnya) yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman tersebut. Untuk menghindari terhambatnya pertumbuhan tersebut diperlukan campur tangan manusia , selaku organisme pengelola pekarangan dalam pengendalian hama tersebut. dengan terkendalinya hama tersebut dapat meningkatkan tingkat pertumbuhan dan tingkat produktivitas tanaman, sehingga produk yang dihasilkan tanaman dinikmati oleh pengelolanya (manusia).
 
2.    Interaksi Antar Komponen Abiotik
Komponen abiotik yang terdapat pada pekarangan desa meliputi suhu, kelembapan udara, suhu, air, intensitas cahaya matahari, dan tanah. Dengan adanya intensitas cahaya matahari yang rendah secara otomatis dapat menyebabkan suhu udara menjadi rendah dan kelembapan udara menjadi tinggi, sedangkan apabila intensitas cahaya matahari randah akan terjadi peristiwa sebaliknya. Dengan adanya intensitas cahaya matahari yang naik turun dan dengan adanya air dapat meningkatkan kesuburan tanah.
3.    Interaksi Komponen Biotik dan Abiotik
Ekosistem pekarangan desa memiliki dua komponen yang saling menjalin interaksi satu sama lain. Adapun interaksi antara komponen biotik dan komponen abiatik seperti berikut.
a.    Hama  (bekicot, belalang, serangga) sebagai pemangsa tanaman.
b.    Air sebagai pelarut unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman.
c.    Manusia sebagai pengelola lahan dan tanaman.
d.    Dekomposer berperan dalam mendekomposisi bahan organik yang dapat menyuburkan tanah
Interaksi antara komponen biotik dan abiotik terjadi pula pada proses fotosintesis pada tanaman. Pada proses fotosintesis komponen abiotik yang dibutuhkan berupa cahaya matahari, air, dan karbon dioksisda, sedangkan komponen biotik berupa klorofil (zat hijau daun) yang berasal dari tumbuhan itu sendiri. Tampa adanya keempat komponen tersebut (karbon dioksida, air, klorofil dan cahaya), maka proses fotosintesis tidak dapat berlangsung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar