I.
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Bumi adalah tempat tinggal semua makhluk, baik makhluk hidup (komponen biotik)
meliputi capung, keong mas, bekicot, belalang, kodok, ulat dan manusia atau
bahkan mikroorganisme yang tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang maupun
makhluk tak hidup (komponen abiotik) meliputi batu, tanah, angin udara dan
lainnya. Untuk membentuk lingkungan yang dinamis terjadilah interaksi antara
komponen biotik dan biotik. bentuk interaksi yang beraneka ragam, mulai dari
simbiosis, predasi, dan kompetisi hingga membentuk suatu peristiwa makan dan
dimakan antar organisme tersebut yang membentuk rantai makanan dan jaring
jaring.
Pertanian dapat dianggap sebagai suatu
usaha intuk mengadakan suatu ekosistem buatan yanga bertugas menyediaakan bahan
makanan bagi manusia. Untuk mengetahui bagaimana teknik dan perlakuan yang tepat dalam bertani, maka
tentu kita harus mengetahui dan memahami sifat dan kejadian apa saja yang
terjadi baik pada tanaman itu sendiri maupun pada lingkungan sekitarnya. Untuk
dapat memahami bagaimana hubungan yang terjadi antara suatu organisme dengan
lingkungannya, dan pegaruh-pengaruhnya terhadap pertanian, maka kita perlu
mempelajari Ekologi pertanian. (Anonim, 2009)
Dalam sistem pertanian (Agroekosistem)
terdapat berbagai organisme yang berperan sebagai hama yang dapat merusak
tanaman di lingkungan pertanian tersebut seperti ulat grayak daun, kutu, kepik,
tikus, serta dijumpai pula agen pengendali dari hama-hama yang ada seperti
burung dan laba-laba. Selain itu terdapat hewan yang tidak tergolong hama
ataupun musuh alami karena peran di lingkungan pertanian justru menguntungkan, seperti
cacing tanah yang dapat menyuburkan tanah, dan lebah menyerbuk yang membantu
penyerbukan antar tanaman dalam sistem pertanian. (Faris, 2007)
II.
MACAM-MACAM
AGROEKOSISTEM
A. Pengertian Agroekosistem
Sebelum membahasa macam-macam
agroekosistem, terlebih dahulu mengetahui apa itu agroekosistem sehingga mudah
untuk memahami macam-macam agroekosistem. Agroekosistem merupakan komunitas
baik tanaman maupun hewan yang berhubungan dengan lingkungannya (baik fisik
maupun kimia) dengan campur tangan manusia untuk menghasilkan pangan, pakan,
serat, kayu bakar, dan produk- produk lainnya. (Anonim,2017)
Agroekosistem memiliki konsep yaitu sistem
ekologi yang ada dalam lingkungan pertanian, biasanya merupakan sistem alami
yang terjadi setelah dibentuk oleh manusia. Dalam arti lain agroekosistem
adalah suatu kawasan tempat membudidayakan makhluk hidup tertentu meliputi apa
saja yang hidup di dalamnya serta material lain yang saling
berinteraksi.(Anonim, 2017)
B. Komponen
Agroekosistem
1. Komponen
Abiotik
Komponen abiotik agroekosistem
sama seperti ekosistem lainnya yaitu meliputi air, kelembapan, tanah, udara,
suhu, arus angin, derajat keasaman (pH), iklim dan lail-lain. Bedanya dalam
agroekosistem terdapat pestisida dan teknologi.
2. Komponen
Biotik
Komponen biotik dalam
agroekosistem meliputi manusia, biota tanah, hewan ternak, tanaman budidaya,
hama, gulma dan mikroorganisme lainnya.
C. Macam
– Macam Agroekosistem
1. Berdasarkan
Jenis/Varietas Tanaman
a.
Monokultur, yaitu jenis atau varietas
tanaman yang ditanam hanya satu dalam
suatu sistem pertanian. Sistem ini memiliki kelebihan yaitu teknis budidayanya yang relatif mudah karena tanaman yang ditanam atau yang dipelihara hanya satu jenis. Di sisi lain, kelemahan sistem ini adalah
tanaman relative mudah terserang hama maupun penyakit sehingga
butuh pengelolaan yang baik.
b.
Polikultur, yaitu jenis tanaman yang
ditanam lebih dari satu dalam suatu sistem pertanian. Pemilihan
tanaman yang tepat, sistem ini dapat memberikan beberapa keuntungan, antara
lain mengurangi serangan OPT,
Menambah kesuburan tanah dan siklus hidup
hama atau penyakit dapat terputus
2. Berdasarakan
Kondisi Lahan
a.
Lahan Basah, contohnya seperti sawah. Bisa dilihat,
sawah memiliki banyak air. Daerah yang memilik cadangan air cukup banyak sering
dijadikan lahan basah.
b.
Lahan Kering, merupakan kebalikan dari lahan basah
karena sering dilakukan pada daerah dengan tingkat cadangan air yang tidak
terlalu banyak. Jenis tanaman yang biasa ditanam adalah jagung, kacang-kacangan
dan ubi-ubian.
3. Berdasarkan
Penggunaan Lahan
a.
Perkebunan
Perkebunan
adalah usaha penanaman tanaman secara teratur sesuai dengan ilmu pertanian dan
mengutamakan tanaman perdagangan. Jenis-jenis tanaman perkebunan khususnya di
Indonesia biasanya antara lain karet, kopi, kelapa sawit, teh, kelapa, tembakau,
tebu, cokelat, kina, kapas dan cengkih. Lahan perkebunan biasanya menggunakan
lahan kering. Pada sistem pengairannya disesuaikan dengan kondisi topogragfi yang
memegang peranan cukup penting dalam penyediaan air. Sumber – sumber air
biasanya berada pada bagian yang paling rendah, sehingga perlu dinaikkan dahulu
agar pendistribusiannya merata dengan baik. Oleh karena itu, pengairan pada
lahan kering dapat berhasil dan efektif pada wilayah yang datar datar sampai
dengan berombak. (Anonim, 2009)
b.
Persawahan
persawah biasanya dilaksanakan di tanah yang basah
atau dengan pengairan. Bersawah merupakan cara bertani yang lebih baik daripada
cara yang lain, bahkan merupakan cara yang sempurna karena tanah dipersiapkan
lebih dahulu, yaitu dengan dibajak, diairi secara teratur, dan dipupuk. Jenis
tanaman yang biasa ditanam di sawah adalah padi. Untuk padi
sawah, ketersediaan air dalam jumlah banyak yang mampu menggenangi lahan tempat
penanaman sangat penting. Tanah yang lempung memiliki kemampuan menahan air
yang tinggi dan bisa menahan air dari terserap oleh tanah dan air dapat
menggenang terus menerus.
c.
Agroforestri
Agroforestri adalah salah satu sistem pengelolaan
lahan yang mungkin dapat ditawarkan untuk mengatasi masalah yang timbul akibat
adanya alih fungsi lahan tersebut dan sekaligus untuk mengatasi masalah
ketersediaan pangan.Sistem agroforestri sederhana adalah suatu sistem pertanian
dimana pepohonan ditanam secara tumpang-sari dengan satu atau lebih jenis
tanaman semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan
tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya
berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar. Jenis-jenis pohon yang
ditanam juga sangat beragam, bisa yang bernilai ekonomi tinggi misalnya kelapa,
karet, cengkeh, kopi, kakao (coklat), nangka, melinjo, petai, jati dan mahoni
atau yang bernilai ekonomi rendah seperti dadap, lamtoro dan kaliandra.
d.
Pekarangan
Lahan pekarangan beserta isinya merupakan satu
kesatuan kehidupan yang saling menguntungkan. Sebagian dari tanaman
dimanfaatkan untuk pakan ternak, dan sebagian lagi untuk manusia, sedangkan
kotoran ternak digunakan sebagai pupuk kandang untuk menyuburkan tanah
pekarnagn. Dengan demikian, hubungan antara tanah, tanaman, hewan piaraan, ikan
dan manusia sebagai unit-unit di pekaranagn merupakan satu kesatuan terpadu
Pekarangan adalah sebidang tanah yang terletak di sekitar rumah dan umumnya
berpagar keliling. Di atas lahan pekarangan tumbuh berbagai ragam tanaman.
Bentuk dan pola tanaman pekarangan tidak dapat disamakan, bergantung pada luas
tanah, tinggi tempat, iklim, jarak dari kota, jenis tanaman. Pada lahan
pekarangan tersebut biasanya dipelihara ikan dalam kolom, dan hewan piaraaan
seperti ayam, itik, kambing, domba, kelinci dan lainnya. (Adi, 2001)
e.
Tegalan
Tegalan merupakan lahan kering yang
ditanami dengan tanaman musiman atau tahunan, seperti padi ladang, palawija,
dan holtikultura. Tegalan letaknya terpisah dengan halaman sekitar rumah dan sangat
tergantung pada turunnya air hujan. Tegalan juga biasanya diusahakan pada
daerah yang belum mengenal sistem irigasi atau daerah yang tidak
memungkinkan dibangun saluran irigasi. Pada musim kemarau keadaan tanahnya
terlalu kering sehingga tidak ditanami. Tanaman utama di lahan tegalan adalah
jagung, ketela pohon, kedelai, kacang tanah, dan jenis kacang-kacangan untuk
sayur. Tanaman padi yang ditanam pada tegalan hanya panen sekali dalam satu
tahun dan disebut padi gogo. Selain itu tanah tegalan dapat ditanami kelapa,
buah-buahan, bambu, dan pohon untuk kayu bakar. Cara bertani di lahan tegalan biasanya
menggunakan sistem tumpangsari.(Anonim, 2009)
III.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Agroekosistem memiliki konsep yaitu
sistem ekologi yang ada dalam lingkungan pertanian. Agroekosistem memilik
komponen abiotik seperti air, kelembapan, tanah, udara, suhu, arus angin,
derajat keasaman (pH), iklim, pestisida
dan teknologi. Komponen biotiknya meliputi manusia, biota tanah, hewan ternak,
tanaman budidaya, hama, gulma dan mikroorganisme lainnya. Setiap agroekosistem
mempunyai karakteristik yang berbeda. Begitupun dengan cara pengolahan yang
dilakukan juga berbeda. Sehingga setiap agroekosistem memiliki beberapa
komoditas khusus yang dapat dibudidayakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar