Jumat, 26 Januari 2018

MACAM-MACAM AGROEKOSISTEM



                                                                                                                                             I.                   PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
     Bumi adalah tempat tinggal semua makhluk, baik makhluk hidup (komponen biotik) meliputi capung, keong mas, bekicot, belalang, kodok, ulat dan manusia atau bahkan mikroorganisme yang tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang maupun makhluk tak hidup (komponen abiotik) meliputi batu, tanah, angin udara dan lainnya. Untuk membentuk lingkungan yang dinamis terjadilah interaksi antara komponen biotik dan biotik. bentuk interaksi yang beraneka ragam, mulai dari simbiosis, predasi, dan kompetisi hingga membentuk suatu peristiwa makan dan dimakan antar organisme tersebut yang membentuk rantai makanan dan jaring jaring.
Pertanian dapat dianggap sebagai suatu usaha intuk mengadakan suatu ekosistem buatan yanga bertugas menyediaakan bahan makanan bagi manusia. Untuk mengetahui bagaimana teknik  dan perlakuan yang tepat dalam bertani, maka tentu kita harus mengetahui dan memahami sifat dan kejadian apa saja yang terjadi baik pada tanaman itu sendiri maupun pada lingkungan sekitarnya. Untuk dapat memahami bagaimana hubungan yang terjadi antara suatu organisme dengan lingkungannya, dan pegaruh-pengaruhnya terhadap pertanian, maka kita perlu mempelajari Ekologi pertanian. (Anonim, 2009)
Dalam sistem pertanian (Agroekosistem) terdapat berbagai organisme yang berperan sebagai hama yang dapat merusak tanaman di lingkungan pertanian tersebut seperti ulat grayak daun, kutu, kepik, tikus, serta dijumpai pula agen pengendali dari hama-hama yang ada seperti burung dan laba-laba. Selain itu terdapat hewan yang tidak tergolong hama ataupun musuh alami karena peran di lingkungan pertanian justru menguntungkan, seperti cacing tanah yang dapat menyuburkan tanah, dan lebah menyerbuk yang membantu penyerbukan antar tanaman dalam sistem pertanian. (Faris, 2007)


                                                                                                                II.          MACAM-MACAM AGROEKOSISTEM

A.    Pengertian Agroekosistem

Sebelum membahasa macam-macam agroekosistem, terlebih dahulu mengetahui apa itu agroekosistem sehingga mudah untuk memahami macam-macam agroekosistem. Agroekosistem merupakan komunitas baik tanaman maupun hewan yang berhubungan dengan lingkungannya (baik fisik maupun kimia) dengan campur tangan manusia untuk menghasilkan pangan, pakan, serat, kayu bakar, dan produk- produk lainnya. (Anonim,2017)
Agroekosistem memiliki konsep yaitu sistem ekologi yang ada dalam lingkungan pertanian, biasanya merupakan sistem alami yang terjadi setelah dibentuk oleh manusia. Dalam arti lain agroekosistem adalah suatu kawasan tempat membudidayakan makhluk hidup tertentu meliputi apa saja yang hidup di dalamnya serta material lain yang saling berinteraksi.(Anonim, 2017)
B.     Komponen Agroekosistem
1.      Komponen Abiotik
Komponen abiotik agroekosistem sama seperti ekosistem lainnya yaitu meliputi air, kelembapan, tanah, udara, suhu, arus angin, derajat keasaman (pH), iklim dan lail-lain. Bedanya dalam agroekosistem terdapat pestisida dan teknologi.
2.      Komponen Biotik
Komponen biotik dalam agroekosistem meliputi manusia, biota tanah, hewan ternak, tanaman budidaya, hama, gulma dan mikroorganisme lainnya.

C.    Macam – Macam Agroekosistem
1.      Berdasarkan Jenis/Varietas Tanaman
a.       Monokultur, yaitu jenis atau varietas tanaman  yang ditanam hanya satu dalam suatu sistem pertanian. Sistem ini memiliki kelebihan yaitu teknis budidayanya yang relatif mudah karena tanaman yang ditanam atau yang dipelihara hanya satu jenis. Di sisi lain, kelemahan sistem ini adalah tanaman relative mudah terserang hama maupun penyakit sehingga butuh pengelolaan yang baik.
b.      Polikultur, yaitu jenis tanaman yang ditanam lebih dari satu dalam suatu sistem pertanian. Pemilihan tanaman yang tepat, sistem ini dapat memberikan beberapa keuntungan, antara lain mengurangi serangan OPT, Menambah kesuburan tanah dan siklus hidup hama atau penyakit dapat terputus
2.      Berdasarakan Kondisi Lahan
a.       Lahan Basah, contohnya seperti sawah. Bisa dilihat, sawah memiliki banyak air. Daerah yang memilik cadangan air cukup banyak sering dijadikan lahan basah.
b.      Lahan Kering, merupakan kebalikan dari lahan basah karena sering dilakukan pada daerah dengan tingkat cadangan air yang tidak terlalu banyak. Jenis tanaman yang biasa ditanam adalah jagung, kacang-kacangan dan ubi-ubian.
3.      Berdasarkan Penggunaan Lahan
a.       Perkebunan
Perkebunan adalah usaha penanaman tanaman secara teratur sesuai dengan ilmu pertanian dan mengutamakan tanaman perdagangan. Jenis-jenis tanaman perkebunan khususnya di Indonesia biasanya antara lain karet, kopi, kelapa sawit, teh, kelapa, tembakau, tebu, cokelat, kina, kapas dan cengkih. Lahan perkebunan biasanya menggunakan lahan kering. Pada sistem pengairannya disesuaikan dengan kondisi topogragfi yang memegang peranan cukup penting dalam penyediaan air. Sumber – sumber air biasanya berada pada bagian yang paling rendah, sehingga perlu dinaikkan dahulu agar pendistribusiannya merata dengan baik. Oleh karena itu, pengairan pada lahan kering dapat berhasil dan efektif pada wilayah yang datar datar sampai dengan berombak. (Anonim, 2009)


b.      Persawahan
persawah biasanya dilaksanakan di tanah yang basah atau dengan pengairan. Bersawah merupakan cara bertani yang lebih baik daripada cara yang lain, bahkan merupakan cara yang sempurna karena tanah dipersiapkan lebih dahulu, yaitu dengan dibajak, diairi secara teratur, dan dipupuk. Jenis tanaman yang biasa ditanam di sawah adalah padi. Untuk padi sawah, ketersediaan air dalam jumlah banyak yang mampu menggenangi lahan tempat penanaman sangat penting. Tanah yang lempung memiliki kemampuan menahan air yang tinggi dan bisa menahan air dari terserap oleh tanah dan air dapat menggenang terus menerus.
c.       Agroforestri
Agroforestri adalah salah satu sistem pengelolaan lahan yang mungkin dapat ditawarkan untuk mengatasi masalah yang timbul akibat adanya alih fungsi lahan tersebut dan sekaligus untuk mengatasi masalah ketersediaan pangan.Sistem agroforestri sederhana adalah suatu sistem pertanian dimana pepohonan ditanam secara tumpang-sari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar. Jenis-jenis pohon yang ditanam juga sangat beragam, bisa yang bernilai ekonomi tinggi misalnya kelapa, karet, cengkeh, kopi, kakao (coklat), nangka, melinjo, petai, jati dan mahoni atau yang bernilai ekonomi rendah seperti dadap, lamtoro dan kaliandra.
d.      Pekarangan
Lahan pekarangan beserta isinya merupakan satu kesatuan kehidupan yang saling menguntungkan. Sebagian dari tanaman dimanfaatkan untuk pakan ternak, dan sebagian lagi untuk manusia, sedangkan kotoran ternak digunakan sebagai pupuk kandang untuk menyuburkan tanah pekarnagn. Dengan demikian, hubungan antara tanah, tanaman, hewan piaraan, ikan dan manusia sebagai unit-unit di pekaranagn merupakan satu kesatuan terpadu Pekarangan adalah sebidang tanah yang terletak di sekitar rumah dan umumnya berpagar keliling. Di atas lahan pekarangan tumbuh berbagai ragam tanaman. Bentuk dan pola tanaman pekarangan tidak dapat disamakan, bergantung pada luas tanah, tinggi tempat, iklim, jarak dari kota, jenis tanaman. Pada lahan pekarangan tersebut biasanya dipelihara ikan dalam kolom, dan hewan piaraaan seperti ayam, itik, kambing, domba, kelinci dan lainnya. (Adi, 2001)
e.       Tegalan
Tegalan merupakan lahan kering yang ditanami dengan tanaman musiman atau tahunan, seperti padi ladang, palawija, dan holtikultura. Tegalan letaknya terpisah dengan halaman sekitar rumah dan sangat tergantung pada turunnya air hujan. Tegalan juga biasanya diusahakan pada  daerah yang belum  mengenal sistem irigasi atau daerah yang tidak memungkinkan dibangun saluran irigasi. Pada musim kemarau keadaan tanahnya terlalu kering sehingga tidak ditanami. Tanaman utama di lahan tegalan adalah jagung, ketela pohon, kedelai, kacang tanah, dan jenis kacang-kacangan untuk sayur. Tanaman padi yang ditanam pada tegalan hanya panen sekali dalam satu tahun dan disebut padi gogo. Selain itu tanah tegalan dapat ditanami kelapa, buah-buahan, bambu, dan pohon untuk kayu bakar. Cara bertani di lahan tegalan biasanya menggunakan sistem tumpangsari.(Anonim, 2009)

                                                                                                                                                        III.          PENUTUP

A.    Kesimpulan

Agroekosistem memiliki konsep yaitu sistem ekologi yang ada dalam lingkungan pertanian. Agroekosistem memilik komponen abiotik seperti air, kelembapan, tanah, udara, suhu, arus angin, derajat keasaman (pH), iklim,  pestisida dan teknologi. Komponen biotiknya meliputi manusia, biota tanah, hewan ternak, tanaman budidaya, hama, gulma dan mikroorganisme lainnya. Setiap agroekosistem mempunyai karakteristik yang berbeda. Begitupun dengan cara pengolahan yang dilakukan juga berbeda. Sehingga setiap agroekosistem memiliki beberapa komoditas khusus yang dapat dibudidayakan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar